“EFEK KOMUNIKASI MASSA TERHADAP ANAK”
Disusun Oleh:
Mar’ahthul Ishlah (I34080052)
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009-2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suratkabar, tv, radio, majalah, dan media massa lainnya merupakan salah satu lingkungan yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Penyebaran informasi yang bebas melalui media massa sangat mempengaruhi tindakan yang akan di lakukan oleh manusia. Di era yang modern ini, masyarakat tentunya memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan, perasaan, perilaku dan sikap dari masyarakat itu sendiri.
Tak terkecuali seorang anak, di era globalisasi sekarang ini anak telah menjadi salah satu konsumen media massa yang mendapat pengaruh cukup besar. Pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan dalam pertumbuhan anak disajikan oleh media massa dalam berbagai cara. Orangtua, keluarga dan guru yang dulu menjadi sumber pemberi kebutuhan kreatifitas anak mulai memercayakan pemenuhan kebutuhan kreativitas anak-anak pada media.
Pemberitaan bahwa seorang anak telah menjadi tersangka pembunuhan karena sering menonton acara smackdown yang disiarkan pada salah satu TV swasta merupakan salah satu fenomena yang menggambarkan betapa kuatnya pengaruh media massa terhadap manusia.
Oleh karena itu, karena menyadari bahwa akan sangat banyak pengaruh yang dihasilkan dari komunikasi massa terhadap anak maka saya akan memaparkan hal tersebut, agar dapat menjadi salah satu referensi dalam menanggapi pengaruh komunikasi massa terhadap anak yang kedepannya diharapkan dapat menjadi pemimpin bangsa yang lebih baik.
1.2 Rumusan masalah
1) Apakah efek dari komunikasi massa?
2) Bagaimana hubungan anak dan media massa?
3) Apakah efek komunikasi massa terhadap anak?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1) Untuk mengetahui efek dari komunikasi massa.
2) Untuk mengetahui hubungan anak dan media massa.
3) Untuk mengetahui efek komunikasi massa terhadap anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KOMUNIKASI MASSA
”Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronis sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.”[1]
Komukasi massa merupakan jenis komunikasi yang bersifat satu arah dan terbuka. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta komunikasi (komunikan), sedangkan bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas atau anonim.[2]
Komunikasi massa digunakan oleh individu untuk berhubungan ataupun memutuskan hubungan dengan orang lain (Katz, Guvevitch dan Haas dalam Jay G. Blumler dan Elihu Katz (eds), 1973:23).
2.2 ANAK
Anak adalah manusia yang umurnya belum mencapai 18 tahun (kumpulan tanya jawab remaja, 1999:3)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 EFEK KOMUNIKASI MASSA
Efek komunikasi massa dibagi atas dua bagian yaitu, efek kehadiran media massa secara fisik dan efek pesan media massa.
Efek kehadiran media massa ada lima hal yaitu: (1) efek ekonomis, (2) efek sosial, (3) efek pada penjadwalan kegiatan, (4) efek pada penyaluran, dan (5) efek pada perasaan orang terhadap media. (Steven. H dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994:220)
Efek pesan media massa meliputi aspek kognitif, afektif, dan behavioral. Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, difahami atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai. Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku. (Rakhmat, 1994:219)
3.2 HUBUNGAN ANAK DAN MEDIA MASSA
Dalam kerangka behaviorisme, khalayak dianggap sebagai kepala kosong yang siap untuk menampung seluruh pesan komunikasi yang dicurahkan kepadanya. (Dervin, 1981:74 dalam Jalaluddin Rakhmat, 1994:202). Dengan kata lain berdasarkan pandangan kaum behavioris, manusia adalah makhluk pasif yang mampu menerima pesan apapun yang diberikan kepadanya tanpa adanya pemilihan pesan. Berbeda dengan pandangan dari psikologi kognitif yang memandang manusia sebagai organisasi yang aktif. Menurut pandangan mereka, realitas tidaklah sesederhana kaum behavioris. Efek lingkungan berlainan pada orang yang berbeda. Media massa memang berpengaruh, tetapi pengaruh ini disaring, diseleksi, bahkan mungkin ditolak sesuai dengan faktor-faktor personal yang mempengaruhi reaksi khalayak. Pandangan psikologi kognitif diperkuat dengan kenyataan bahwa ada beberapa khalayak yang akan terpengaruh dengan suatu media massa jika pesan yang disampaikan memberikan keuntungan untuk diri khalayak itu sendiri.
Kedua pandangan di atas dapat dihubungkan dengan anak-anak. Anak-anak hanya dapat menerima pesan yang diberikan kepadanya tanpa menyeleksi pesan tersebut dan anak-anak akan memilih pesan yang akan diterimanya sesuai dengan apa yang mereka sukai dan bersifat menghibur mereka.
Kenyataan di atas dapat kita lihat pada tragedi yang melumpuhkan seorang anak bernama Subhit yang bermain smack down seperti yang sering disaksikannya di salah satu media massa. Subhit dalam posisi sebagai seorang anak yang belum bisa menyeleksi pesan yang diterimanya sehingga mengikuti pesan itu. Tidak hanya Subhit, masih banyak anak-anak lain yang menjadi korban dari penyampaian pesan media massa seperti ini. Permasalahannya sekarang bahwa media massa telah menjadi kesukaan anak-anak. Seperti yang dikatakan oleh Elizabeth B. Hurlock, Anak-anak jarang melihat bioskop tetapi ia senang film kartun, film tentang binatang, dan film rumah tentang anggota-anggota keluarga. Anak senang mendengarkan radio, tetapi lebih senang melihat televisi. Ia lebih senang melihat acara untuk anak-anak yang lebih besar dan anak-anak pra sekolah.[3]
Semangat mencari pengalaman baru dan hasrat ingin tahu pun sangat tinggi ketika berada dalam usia pertumbuhan seorang anak membuat mereka semakin dekat dengan media massa. Yang dengan menggunakan istilah Daniel Lerner, media massa menyajikan pengalaman buatan (vicarious experience) yang dapat memenuhi kebutuhan anak-anak tersebut.
3.3 EFEK KOMUNIKASI MASSA TERHADAP ANAK
3.3.1 Efek Kognitif Komunikasi Massa
Efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, difahami atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi.[4]
Efek kognitif komunikasi terlihat pada pembentukan dan perubahan citra, Agenda setting, dan efek proposal kognitif media massa.[5]
Sehubungan dengan pembentukan dan perubahan citra, media massa cenderung lebih menampilkan sebuah kenyataan yang sudah dipilihnya, kenyataan yang menurutnya menarik dan dapat menarik perhatian khalayak. Seperti kekerasan dan tindak kriminal yang dapat membuat anak-anak berfikir bahwa dunia ini adalah tempat yang keras, tidak aman dan mengerikan. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak dimana anak akan menjadi takut menghadapi dunia yang menurutnya begitu keras ataupun akan munculnya perasaan mempertahankan dan melindungi diri dengan melakukan tindak kekerasan. Pada sebuah survey yang dilakukan antara 25 april-1 mei 2004, acara patroli minggu di indosiar menempati peringkat rating tertinggi dengan penonton sebanyak 21,9% yang membuktikan bahwa acara yang mengandung unsur kriminalitas dan kekerasan sangat disukai oleh masyarakat di Indonesia. (Harsono dalam Saktiyanti dan Irvan, 2006:6)
Agenda setting merupakan kemampuan media massa untuk mempengaruhi apa yang di anggap penting oleh masyarakat.[6] Dalam hal ini media massa mempengaruhi pengetahuan yang akan lebih di ketahui oleh masayarakat, media massa selalu mengatur atau mengagendakan pesan yang diberikannya. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, media massa yang lebih sering membahas tindakan-tindakan kriminalitas akan mengenalkan kepada anak jenis kriminalitas yang mungkin belum diketahui oleh anak.
Bila media massa terbukti sanggup membentuk citra orang tentang lingkungan dengan menyampaikan informasi, kita juga dapat menduga bahwa media massa tertentu berperan juga dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang baik. Efek ini kemudian di kenal dengan istilah Efek Prososial Kognitif. Tentunya dengan pesan tertentu dari media massa anak-anak memperoleh pengetahuan. Misalnya saja dengan media massa pengetahuan anak dalam pemberdaharaan kata akan meningkat.
3.32 EFEK AFEKTIF KOMUNIKASI MASSA
“Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai.”[7]
Rangsangan Emosional yang diberikan oleh media massa tentunya juga dapat mempengaruhi apa yang dirasakan oleh masyarakat. Dewasa ini, media massa juga sangat sering menyajikan pesan-pesan yang dapat mempengaruhi perasaan masyarakat, misalnya saja sinetron ataupun novel-novel roman yang seringkali membawa perasaan masyarakat masuk ke dalam alur ceritanya sehingga masyarakat merasakan senang, sedih, kecewa, ataupun takut ketika menerima pesan tersebut. Anak-anakpun tak lepas dari efek ini, kebanyakan anak-anak menyukai sesuatu yang menurut mereka berbeda, seperti horror. Tayangan-tayangan horor dapat membuat anak merasa takut sehingga tidak ingin menonton atau di tinggalkan sendiri
3.3.3 EFEK BEHAVIORAL KOMUNIKASI MASSA
Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati; yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku.[8] Efek behavioral komunikasi massa dibagi menjadi dua yaitu Efek Prososial Behavioral dan Agresi sebagai Efek Komunikasi massa.
Efek Prososial Behavioral
Salah satu perilaku prososial adalah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya ataupun orang lain. Dulu keterampilan seorang anak akan diperolehnya dari orang tua, keluarga ataupun guru mereka. Tapi, dengan kemajuan teknologi orang tua kebanyakan telah menyerahkan tugas tersebut dan memercayakannya kepada media massa dengan berbagai alasan.
Penelitian oleh Kompas mengungkapkan bahwa masih sangat banyak orang tua yang membebaskan anak mereka menonton Televisi dengan berbagai macam alasan dan tanpa pendampingan.
Tabel 1. Alasan Orang tua Membiarkan Anak Menonton TV
| Alasan |
% |
| Menghibur Anak |
40 |
| Supaya Betah di Rumah |
29 |
| Kepercayaan Terhadap Penyelenggara TV |
18,3 |
| Alasan Praktis lain |
10,9 |
(Sumber:Suprihadi dalam Saktiyanti dan Irvan, 2006:4)
Dari pandangan lain tentang media massa dan efek prososial yang diberikannya, media massa dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan kreatifitas atau pengetahuan anak. Dengan iklan bahaya merokok misalnya, iklan bahaya merokok dapat menakuti anak-anak tentang bahaya merokok sehingga mereka tahu tentang bahaya merokok dan menghindari kebiasaan merokok itu sendiri.
Penelitian State University of New York juga membuktikan bahwa media massa dapat berpengaruh positif terhadap anak. Para peneliti mengumpulkan data dari rumah dan melalui telepon mengenai 3.128 anak yang dilahirkan antara 1998 dan 2000, hasilnya diketahui jika menonton televisi mempengaruhi perilaku anak kecil yang baru belajar jalan. Makin sering mereka menonton televisi, makin agresif perilaku mereka.[9]
Agresi sebagai Efek Komunikasi Massa
Agresi adalah setiap bentuk perilaku yang diarahkan untuk merusak atau melukai orang lain yang menghindari perlakuan seperti itu (Baron dan Byrne, 1979:405 dalam Rakhmat, 1994:243). Dalam pandangan ini, para peneliti menduga bahwa media massa akan membuat masyarakat mengikuti pesan yang diterimanya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Leyers dan kawan-kawan (1975) mengamati perilaku agresif sejumlah murid di Belgia. Perilaku yang diamati terjadi pada situasi alamiah. Kegiatan mereka sehari-hari tidak terganggu. Berdasarkan tempat tinggalnya, mereka dibagi ke dalam dua kelompok. Selama seminggu, satu kelompok menerima lima buah film yang mengandung kekerasan dan kelompok lain menonton film yang tidak mengandung unsur kekerasan, perilaku mereka diawasi, dan hasilnya adalah mereka yang menonton film yang mengandung kekerasan menunjukkan perilaku ke arah yang lebih agresif.
Gambar 1. Penemuan Leyers et. al. menunjukkan kenaikan agresi setelah menonton film agresif.
(sumber: Baron dan Byrne, 1979 : 27 dalam Rakhmat, 1994: 245)
Fakta lainpun dapat kita lihat pada kenyataan bahwa anak laki-laki yang sering menonton perilaku keras di televisi seperti pertandingan tinju dan smackdown membuat anak laki-laki lebih agresif dari anak perempuan. Anak laki-laki jadi lebih sering terlibat dalam kasus ataupun permainan yang mengandung unsur kekerasan sehingga kadang membuat mereka menjadi salah satu tersangka dari tindak kekerasan itu sendiri.
BAB IV
PENUTUP
4. 1 Kesimpulan
Komukasi massa adalah jenis komunikasi melalui media massa yang bersifat terbuka dan ditujukan untuk umum. Karena keterbukaannya itu pula, komunikasi massa dapat menjadi sebuah ancaman bagi masyarakat jika masyarakat tidak dapat menyeleksi pesan yang disampaikan oleh media massa. Khususnya bagi anak-anak yang masih pasif terhadap lingkungannya dan belum dapat menyeleksi dengan baik pesan yang diterimanya.
Efek dari komunikasi massa tentunya ada yang bersifat positif dan negatif. Segi positif dari komunikasi massa itu sendiri adalah dalam hal pemenuhan kebutuhan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan anak dalam pertumbuhannya. Sedangkan dari segi negatif, media massa yang merupakan media dari komunikasi massa itu sendiri ada yang memberikan pesan-pesan yang belum dapat ditangkap dengan baik oleh anak sehingga anak mengikutinya tanpa tahu konsekuensi yang akan di timbulkannya. Khususnya dalam hal kekerasan.
4.5 Saran
Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakat. Namun ada beberapa hal yang harus dipikirkan kembali tentang media massa itu sendiri, khususnya dalam hal efek yang ditimbulkannya dalam pemberian pesan-pesan yang dapat menimbulkan efek negatif yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak yang merupakan masa depan bangsa.
Peran orang-orang terdekat seperti keluargapun memegang peranan penting dalam penerimaan pesan anak dari media massa. Keluarga diharapkan dapat mendampingi anak dalam menghadapi media massa sehingga pengetahuan yang didapatkan oleh anak dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan dan usianya.
Catatan akhir:
[1] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994, hal. 189).
[2] Ibid., hal. 189.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Developmental Psycology, A Life Span Approach, diterjemahkan oleh Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc dengan judul Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang tentang kehidupan (Jakarta: Erlangga, 1980, hal:122)
[4] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[5] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[6] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal:229.
[7] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[8] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[9] Liana Garcia, www.inilah-TV Pengaruhi Anak Baru Belajar Jalan.htm, pada tanggal 01 januari 2010 pukul 17.52
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth.B 1980, Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang tentang kehidupan terjemahan oleh Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc, Erlangga: Jakarta.
Katz, Blumler, dan Gurevitch, 1973 “Utilization Of Mass Communication By The Individual,” dalam The Uses Of Mass Communication, Editor: Jay G. Blumler dan Elihu Katz, Sage Publication : New York.
Kumpulan Tanya Jawab Remaja Sahaja PKBI DIY UNICEF 1999, Pengertian Konvensi Anak, Yayasan Aulia: Jakarta.
Liana Garcia, www.inilah-TV Pengaruhi Anak Baru Belajar Jalan.htm, pada tanggal 01 januari 2010 pukul 17.52
Rakhmat, Jalaluddin 1994, Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Saktiyanti R dan Irvan M 2006, Menilai Tanggung Jawab Televisi, Piramedia: Depok
[1] Jalaluddin Rakhmat,
Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994, hal. 189).
[2] Ibid., hal. 189.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Developmental Psycology, A Life Span Approach, diterjemahkan oleh Dra. Istiwidayanti dan Drs. Soedjarwo, M.Sc dengan judul Psikologi Perkembangan: suatu pendekatan sepanjang tentang kehidupan (Jakarta: Erlangga, 1980, hal:122)
[4] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[5] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[6] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal:229.
[7] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[8] Jalaluddin Rakhmat, op.cit, hal: 219.
[9] Liana Garcia, www.inilah-TV Pengaruhi Anak Baru Belajar Jalan.htm, pada tanggal 01 januari 2010 pukul 17.52